Wabah penyakit yang mematikan memang sudah lama menjadi bagian dari sejarah manusia. Namun, pandemi COVID-19 yang baru saja melanda telah mengajarkan kita banyak hal, salah satunya adalah betapa rentannya kita dan betapa pentingnya kerja sama global. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bahkan mengingatkan kita: “Pandemi selanjutnya bukan lagi soal jika, tapi soal kapan.” Sebuah pernyataan yang cukup membuat kita merenung, bukan?
Untuk itu, saat ini seluruh negara anggota WHO sedang bekerja keras menyusun sebuah perjanjian penting yang disebut Perjanjian Pandemi WHO. Tujuannya sederhana namun krusial: memastikan dunia lebih siap, lebih cepat tanggap, dan yang terpenting, lebih adil dalam menghadapi ancaman pandemi di masa depan. Salah satu bagian terpenting dari perjanjian ini adalah apa yang disebut Lampiran Akses dan Pembagian Manfaat Patogen (PABS). Kedengarannya rumit? Mari kita sederhanakan.
Bayangkan begini: jika suatu hari ada virus baru yang sangat berbahaya muncul di suatu negara, penting sekali bagi para ilmuwan di seluruh dunia untuk segera mendapatkan akses ke “cetak biru” virus tersebut (patogennya, yaitu mikroorganisme penyebab penyakit) agar bisa diteliti dan dikembangkan vaksin atau obatnya. Nah, sistem PABS ini memastikan bahwa informasi vital mengenai patogen berbahaya itu dapat dibagikan dengan cepat dan merata ke seluruh dunia. Tetapi tidak berhenti sampai di situ! PABS juga mengatur agar manfaat yang lahir dari penelitian tersebut, seperti vaksin, alat diagnostik, atau obat-obatan, juga harus dibagikan secara adil dan merata ke semua negara, tidak hanya kepada mereka yang punya uang atau teknologi.
Negosiasi mengenai lampiran PABS ini memang tidak mudah, melibatkan banyak aspek teknis dan hukum yang kompleks. Namun, WHO dan negara-negara anggota telah menunjukkan komitmen kuat. Meskipun butuh waktu tambahan hingga kemungkinan tahun 2027 untuk finalisasi, Dr. Tedros optimis bahwa perbedaan akan teratasi. Beliau menyebut PABS sebagai “bagian terakhir dari teka-teki” yang akan melengkapi semua inisiatif WHO pasca-COVID-19 untuk membangun pertahanan global yang lebih kuat dan setara. Ini adalah upaya nyata agar ketidakadilan dalam akses vaksin dan pengobatan yang terjadi saat pandemi lalu tidak terulang kembali.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Jaga Kebersihan Diri: Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, dan menjaga etika batuk/bersin adalah lini pertahanan pertama kita sehari-hari.
- Tetap Terinformasi: Ikuti berita dan arahan kesehatan dari sumber-sumber terpercaya seperti WHO atau Kementerian Kesehatan. Jangan mudah percaya hoaks.
- Dukung Kerja Sama Global: Meskipun Anda bukan seorang diplomat, memahami pentingnya perjanjian seperti PABS ini membantu kita semua menyadari bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, di tingkat lokal maupun global.
- Vaksinasi Sesuai Anjuran: Pastikan Anda dan keluarga mendapatkan vaksinasi rutin serta vaksin yang dianjurkan (misalnya, vaksin COVID-19 jika masih tersedia dan direkomendasikan) untuk membangun kekebalan komunitas.
Dengan upaya global seperti Perjanjian Pandemi WHO ini, serta kesadaran dan tindakan kita sebagai individu, kita bisa berharap untuk menghadapi masa depan dengan lebih tangguh. Bersama, kita bisa mengubah ancaman pandemi menjadi kesempatan untuk membangun dunia yang lebih sehat dan adil.