Latar Belakang & Tujuan
Hiportermia spontan periodik yang didapat (SPH) merupakan kondisi neurologis langka, seringkali diasosiasikan dengan lesi struktural di area hipotalamus yang berperan vital dalam termoregulasi. Manifestasi klinis SPH dapat menyerupai kondisi infeksius atau endokrinologi lain, menyebabkan tantangan diagnostik signifikan. Studi kasus ini bertujuan untuk mendokumentasikan presentasi unik SPH yang didapat dan pansitopenia pada seorang pasien dengan meningioma basis kranii yang menekan hipotalamus, serta menyoroti pentingnya diagnosis dini dan pengelolaan yang tepat untuk mencegah misdiagnosis dan intervensi yang tidak perlu.
Metodologi Riset
Penelitian ini adalah sebuah studi kasus klinis mendalam (in-depth clinical case study) yang berfokus pada seorang wanita berusia 69 tahun dengan riwayat meningioma basis kranii rekuren. Metodologi meliputi observasi klinis yang cermat terhadap episode hiportermia rekuren, yang awalnya disalahatribusikan sebagai infeksi. Investigasi diagnostik komprehensif dilakukan, termasuk evaluasi pencitraan resonansi magnetik (MRI) otak dengan kontras untuk menilai ukuran dan lokasi tumor, serta potensi kompresi struktur serebral. Pemeriksaan laboratorium ekstensif dilakukan untuk menyingkirkan etiologi infeksi (misalnya, kultur darah, penanda inflamasi) dan endokrinologi lainnya seperti insufisiensi adrenal. Evaluasi endokrin lebih lanjut meliputi pengujian fungsi tiroid dan gonad untuk mengidentifikasi disfungsi aksis hipotalamus-hipofisis. Kekuatan metodologis dalam konteks studi kasus ini terletak pada proses diagnostik eksklusi yang ketat dan pendekatan multimodal untuk mengidentifikasi penyebab dasar dari gejala yang kompleks dan tidak biasa.
Hasil & Temuan Utama
Pasien menunjukkan episode hiportermia rekuren yang mengikuti pola sirkadian, disertai dengan delirium dan pansitopenia. Gambaran MRI otak mengungkapkan meningioma basis kranii berukuran besar yang secara signifikan menekan hipotalamus, dengan korpus kalosum yang intak. Investigasi ekstensif berhasil menyingkirkan infeksi bakteri atau virus serta insufisiensi adrenal sebagai penyebab hiportermia. Meskipun demikian, ditemukan subklinis hipotiroidisme dan hipogonadisme sentral, konsisten dengan keterlibatan aksis hipotalamus-hipofisis. Episode hiportermia merespons terapi penghangatan eksternal, dan pansitopenia pasien menormalisasi secara spontan seiring waktu. Temuan ini secara kolektif mendukung diagnosis SPH yang didapat, secara langsung diatribusikan pada kompresi hipotalamus akibat meningioma. Perlu dicatat bahwa, sebagai studi kasus tunggal, tidak ada ukuran sampel yang dapat dikuantifikasi atau signifikansi statistik (p-value, interval kepercayaan) yang dapat dilaporkan dalam metrik tradisional. Namun, korelasi temporal dan anatomis antara kompresi hipotalamus oleh tumor dan manifestasi klinis yang diamati sangat signifikan secara klinis.
Diskusi & Implikasi Klinis
Kasus ini secara tegas mengilustrasikan mekanisme di mana kompresi hipotalamus oleh massa intrakranial dapat mengganggu pusat termoregulasi, menyebabkan SPH. Fenomena pansitopenia spontan yang menyertai, meskipun normalisasi, juga mengindikasikan kemungkinan keterlibatan hipotalamus dalam fungsi hematopoietik atau sebagai respons stres yang dimediasi secara sentral. Implikasi klinisnya sangat signifikan: kesadaran akan SPH sebagai komplikasi dari tumor basis kranii sangat krusial untuk mencegah misdiagnosis sebagai kondisi infeksius, yang dapat menyebabkan penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan penundaan dalam penanganan penyebab yang mendasari. Pengenalan dini memungkinkan penerapan manajemen suportif yang tepat, seperti penghangatan eksternal, dan pemantauan disfungsi endokrin yang mungkin terjadi. Studi kasus ini memperkuat pemahaman kita tentang kompleksitas fungsi hipotalamus dan perlunya pertimbangan diagnostik yang luas pada pasien dengan lesi otak dan gejala non-spesifik.
Kesimpulan Akademis
Studi kasus ini menyoroti presentasi langka dari hiportermia periodik spontan yang didapat dan pansitopenia yang diasosiasikan dengan kompresi hipotalamus oleh meningioma basis kranii. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi neurologis dan endokrin yang komprehensif pada pasien dengan gejala atipikal, terutama ketika terdapat lesi struktural otak. Pengenalan dini SPH dan disfungsi aksis hipotalamus-hipofisis terkait tumor dapat secara signifikan meningkatkan hasil pasien dengan memandu perawatan suportif yang sesuai dan menghindari misdiagnosis yang merugikan.
Sumber: Neurological sciences : official journal of the Italian Neurological Society and of the Italian Society of Clinical Neurophysiology, 2026 — Full Paper Access